Salah satu contoh perilaku penyimpangan sosial yang kerap muncul di masyarakat, terutama masyarakat modern, adalah penyimpangan gaya hidup. Perilaku penyimpangan gaya hidup terutama paling sering menjangkiti masyarakat yang hidup di kota-kota besar. Dalam hal penyimpangan sosial, sebenarnya telah ada banyak aturan yang dibuat untuk meredam atau menghukum para pelakunya. Namuntidak sedikit gaya hidup modern ditandai dengan hal-hal yang negatif, seperti: gaya hidup yang konsumtif, mewah, individualis, serba instan dsb. Bentuk-Bentuk Gaya Hidup Modern. Ada beberapa bentuk gaya hidup masyarakat modern yang perlu diketahui, diantaranya adalah sebagai berikut: Menjadikan status sosial sebagai sesuatu yang penting. Pada Kesempatan ini pendidikanku akan membahas mengenai pengertian KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) . untuk penjelasannya sebagai berikut : Korupsi adalah suatu tindakan yang sangat tidak terpuji dan dapat merugikan suatu bangsa, perbuatan tidak jujur atau penyelewengan yang dilakukan karena adanya suatu pemberian. Contoh: sepintar-pintarnya, secantik-cantiknya, warna warni, dll. Kata Sifat Majemuk, yitu kata yang terbentuk dari gabungan kata yang menghasilkan makna baru. Contoh : rendah hati, baik hati, ringan tangan, dll. Contoh Kata Sifat dalam Kalimat Bahasa Indonesia. Berikut ini contoh penggunaan kata sifat dalam kalimat bahasa Indonesia. A Hasil panen yang berasal dari bayam adalah 90 pot. [Benar/Salah] B. Berat total hasil panen keempat sayuran adalah 96 kg. [Benar/Salah] C. Banyak pot yang digunakan untuk menanam semua sayuran adalah 170 buah pot. [Benar/Salah] Jawaban: A Salah, B Benar, C Salah. Perhatikan teks berikut. pFnppPV. Konsumerisme adalah perilaku konsumtif berlebihan yang timbul dari keinginan membeli barang atau jasa untuk kepuasan pribadi. Dengan kata lain, konsumerisme artinya adalah budaya konsumsi secara terus-menerus. Konsumerisme menjadi salah satu dampak dari globalisasi dan sistem kapitalisme modern yang telah berkembang ke seluruh penjuru dunia. Adanya internet dan media sosial seolah membuat konsumerisme semakin menjamur. Apa itu Konsumerisme Konsumerisme dapat diartikan sebagai paham atau ideologi yang menjalankan proses konsumsi dan pemakaian barang produksi secara berlebihan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI, konsumerisme adalah salah satu bagian gaya hidup yang menganggap bahwa barang-barang mewah atau tersier sebagai tolak ukur kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya. Tak heran jika perilaku ini kerap dihubungkan dengan sifat boros, glamour, dan hedon. Menurut sosiolog Jean Baudrillard, konsumerisme artinya budaya konsumsi modern yang menciptakan hasrat untuk mengonsumsi sesuatu secara terus menerus. Seseorang yang dengan gaya hidup konsumerisme umumnya ingin menunjukkan status sosialnya, sehingga dapat dikatakan tujuan konsumerisme bukan karena kebutuhan, melainkan lifestyle belaka. BACA JUGA Apa Itu FOMO dan Strategi yang Biasanya Digunakan Ciri-ciri Konsumerisme Setelah mengetahui apa itu konsumerisme, selanjutnya kami akan memaparkan beberapa ciri konsumerisme. Ada beberapa ciri konsumerisme, di antaranya adalah sebagai berikut 1. Membeli Barang Karena Tren Ciri-ciri menonjol dari konsumerisme adalah keinginan untuk mengikuti tren. Konsumerisme bisa muncul karena perasaan FOMO Fear of Missing Out dan takut ketinggalan tren. 2. Ingin Tampil Beda dan Menarik Perhatian Ciri lain dari konsumerisme adalah keinginan untuk tampil beda agar menarik perhatian orang lain. Orang-orang yang konsumtif biasanya mengincar barang-barang mewah terbaru atau yang limited edition. Selain untuk kepuasan pribadi, perilaku ini juga untuk menarik perhatian orang lain. 3. Bangga Terhadap Penampilan dan Kepemilikan Barang Pelaku konsumerisme biasanya akan bangga dengan sesuatu yang mereka miliki, entah penampilan atau barang tertentu. Perasaan ini dapat memicu keinginan untuk pamer kepada orang lain dan merasa bangga berlebihan terhadap diri sendiri. Sama seperti hedonisme, konsumerisme bukanlah perilaku yang secara alami ada pada diri manusia. Konsumerisme artinya adalah sesuatu yang terjadi karena beberapa penyebab, di antaranya 1. Globalisasi Penyebab utama konsumerisme adalah globalisasi, yang terjadi saat banyak produk-produk luar masuk ke pasar Indonesia. Produk-produk ini seringkali memiliki beberapa keunggulan sehingga membuat masyarakat ingin terus membelinya. 2. Kemajuan Teknologi Konsumerisme sulit berkembang tanpa kehadiran teknologi. Saat ini, gaya hidup mewah dan konsumtif sangat mudah ditemukan di berbagai unggahan media sosial, baik dari kalangan selebriti, influencer, bahkan orang biasa. Tanpa disadari, gaya hidup mewah ini dapat “menular” ke siapapun yang terpapar unggahan tersebut secara terus-menerus. 3. Budaya Pop Selain dari unggahan di media sosial, menyebarnya budaya pop juga telah menyebabkan konsumerisme. Budaya pop yang dimaksud meliputi film, game, musik, dan lain-lain. Produk-produk yang ada di dalamnya menyebabkan banyak orang ingin membeli atau menggunakannya, meski tidak benar-benar membutuhkan. 4. Tren Gaya Hidup Penyebab lain dari konsumerisme adalah tren yang tersebar di kalangan masyarakat. Tren ini biasanya dipopulerkan oleh kalangan figur publik atau influencer di media sosial, yang membuat masyarakat ingin menggunakannya juga. BACA JUGA Lima Contoh Budaya Perusahaan yang Unik Dampak Konsumerisme Sebenarnya, konsumerisme tidak hanya bisa membawa dampak negatif, tetapi juga dampak positif. Apa saja? Dampak Negatif Ada beberapa dampak negatif dari konsumerisme, di antaranya adalah sebagai berikut 1. Menimbulkan Sifat Boros Orang dengan jiwa konsumtif akan cenderung melakukan pemborosan. Hal ini karena saat mereka membeli suatu barang atau jasa, mereka lebih banyak mementingkan kepuasan dibanding kebutuhan. 2. Kesulitan Mengatur Keuangan Sifat boros yang disebabkan oleh gaya hidup konsumerisme, juga akan membuat orang kesulitan mengatur keuangan. Kebiasaan membeli barang tanpa didasari kebutuhan juga bisa memicu kondisi “besar pasak daripada tiang”, di mana pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Konsumerisme juga menyebabkan seseorang sulit menabung dan berinvestasi untuk masa depan keuangannya. 3. Memicu Ketimpangan Sosial Dampak negatif lain dari konsumerisme adalah bisa menimbulkan ketimpangan sosial. Hal ini karena tidak semua masyarakat memiliki daya beli yang sama, padahal tren atau gaya hidup konsumtif berkembang di seluruh lapisan masyarakat. Akibatnya, ketimpangan sosial pun tidak bisa dihindari. 4. Dapat Memicu Utang Orang dengan daya beli rendah, namun ingin mengikuti tren yang berkembang, kemungkinan akan memutuskan berutang demi tercapainya kepuasan diri tersebut. Utang yang menumpuk dan tidak terkendali akan membawa masalah lain yang lebih serius, seperti kriminalitas atau depresi. Dampak Positif Ada beberapa dampak positif dari konsumerisme, di antaranya adalah sebagai berikut 1. Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Walau banyak memicu dampak negatif, namun tidak bisa dimungkiri bahwa konsumerisme juga dapat meningkatkan siklus pembelian dan penjualan. Hal ini akan secara langsung mendorong roda pertumbuhan ekonomi suatu negara. 2. Meningkatkan Daya Kreativitas dan Inovasi Pelaku Usaha Dampak positif lain dari konsumerisme adalah mendorong pelaku bisnis untuk lebih kreatif dan berinovasi menciptakan produk-produk yang disukai masyarakat. Hal ini dapat terjadi karena berkat konsumerisme, selera masyarakat akan suatu produk akan terus berkembang. Semakin banyak permintaan suatu barang, semakin turun pula biaya produksinya. Hal ini tentu akan menguntungkan konsumen, karena harga jualnya juga menjadi lebih rendah. 4. Meningkatkan Jumlah Lapangan Kerja Dampak positif terakhir dari konsumerisme adalah meningkatkan jumlah lapangan pekerjaan. Hal ini dapat terjadi karena semakin banyak produk yang beredar, semakin banyak pula tenaga kerja yang dibutuhkan. BACA JUGA Domain .ART – Ideal Bagi Komunitas Seni dan Budaya Contoh Konsumerisme Ada beberapa contoh dari konsumerisme, di antaranya adalah sebagai berikut 1. Membeli Barang Mewah karena Mengikuti Tren Salah satu tren yang dapat memicu sikap konsumerisme adalah mengoleksi tas-tas branded dengan harga fantastis, mulai dari belasan hingga ratusan juta. Mirisnya, tidak sedikit orang yang rela berutang atau menggunakan kartu kredit demi mengikuti tren ini. 2. Membeli iPhone Terbaru Agar Tidak Ketinggalan Tren Contoh lain konsumerisme adalah membeli iPhone terbaru. Mengapa demikian? iPhone memang selalu menjadi perbincangan di seluruh kalangan. Seseorang yang menggunakan iPhone kerap dinilai sebagai orang yang trendi dan berkelas. Sehingga, membeli seri terbaru iPhone setiap tahun dengan alasan agar tidak ketinggalan zaman dapat menjadi salah satu contoh konsumerisme 3. Membeli Koin Crypto hingga Ratusan Juta Beberapa waktu lalu, banyak orang terkena “demam” crypto, atau investasi mata uang digital. Tren ini memicu konsumerisme, bahkan banyak orang rela berutang agar tidak tertinggal tren berinvestasi. Konsumerisme memang tidak selamanya buruk. Namun, ada baiknya Anda tetap mengontrol diri supaya tidak terjebak dalam konsumerisme yang memicu kerugian. Itulah penjelasan tentang apa itu konsumerisme oleh Rumahweb Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat! Perilaku konsumtif menjadi gaya hidup yang dilakukan dari beragam kalangan. Gaya hidup ini erat kaitannya dengan sifat hedonisme yang identik dengan kegiatan menghambur-hamburkan uang. Nah apa itu perilaku konsumtif? Yuk simak penjelasan di bawah ini karena Moxa akan menjelaskan secara detail mulai dari pengertian konsumtif, faktor penyebabnya, contoh perilakunya, dampak terhadap kondisi keuangan, dan cara mengatasi perilaku ini. yuk simak artikelnya! Apa Itu Perilaku Konsumtif? Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI mendefinisikan konsumtif sebagai kata sifat yang memiliki arti hanya mengonsumsi, hanya memakai, dan tidak menghasilkan sendiri. Sementara konsumtif adalah tindakan atau gaya hidup yang sering membelanjakan uang tanpa pertimbangan yang matang sehingga barang yang dibeli tidak terpakai dan menjadi percuma saja. Baca Juga Rekomendasi Buku Keuangan, Anak Muda Wajib Baca Penyebab Melakukan Perilaku Konsumtif Seseorang yang konsumtif umumnya disebabkan oleh berbagai faktor seperti faktor internal dan faktor eksternal. Berikut penjelasannya. 1. Faktor Internal Faktor internal seseorang memiliki perilaku konsumtif terbagi atas Motivasi, maksudnya motivasi disini yaitu hal-hal seperti pemikiran seseorang atas standar tertentu dimana standar ini mendorong ia untuk membeli barang atau jasa secara berlebihan. Harga Diri, harga diri seseorang berpengaruh pada timbulnya perilaku ini. Biasanya, seseorang dengan harga diri yang rendah akan lebih mudah terpengaruh untuk menerapkan gaya hidup konsumtif tanpa disadari. Kepribadian, kepribadian adalah tingkah laku seseorang yang dapat berubah-ubah. Jika tidak memiliki kepribadian yang tegas maka akan sangat berpotensi. 2. Faktor Eksternal Perilaku konsumtif dapat disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti keluarga, kebudayaan, dan kelas sosial. Keluarga merupakan kelompok terdekat yang memiliki pengaruh terhadap cara seseorang mengatur keuangan yang berpotensi menjadi penyebabnya. Kebudayaan dapat membentuk tingkah seseorang untuk melakukan perilaku konsumtif. Kelas Sosial terbagi menjadi beberapa tingkatan seperti dasar kekayaan, pengaruh atau kuasa, kehormatan, dan ilmu pengetahuan. Tingkatan inilah yang membuat seseorang melakukan perilaku ini karena adanya hasrat untuk masuk ke kelas sosial tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari, contoh perilaku ini dapat dengan mudah ditemui. FOMO merupakan salah satu contoh perilaku konsumtif yang menerjang generasi muda. FOMO atau Fear of Missing Out adalah perasaan khawatir atau takut ketinggalan akan sesuatu. Misalnya adalah barang keluaran terbaru, tempat makan atau tempat wisata yang lagi viral. Contoh perilaku konsumtif lainnya yaitu membeli barang branded hanya untuk meningkatkan status sosial. Juga membeli barang karena gengsi, bukan karena memang membutuhkannya. Misalnya seperti ponsel keluaran terbaru padahal ponsel yang sebelumnya masih berfungsi. Contoh lainnya adalah membeli makanan terlalu banyak hanya untuk mendapatkan promo dan tidak dihabiskan. Hal yang seperti ini justru dapat membuat arus keuangan menjadi tidak sehat. Baca Juga Apa Itu Literasi Keuangan dan Pentingnya Agar Merdeka Finansial Dampak Perilaku Konsumtif Pada Keuangan Pribadi Perilaku konsumtif yang terus menerus dilakukan oleh seseorang dapat memberikan dampak negatif, khususnya di bagian keuangan. Berikut ini dampak perilaku konsumtif pada keuangan pribadi. 1. Boros dan Terjerat Utang Seseorang yang menjalankan gaya hidup konsumtif cenderung memiliki sifat boros. Ia akan mengutamakan nafsu untuk membeli suatu barang atau jasa sehingga dapat menyebabkan tumbuhnya utang konsumtif. Utang konsumtif merupakan utang yang harus ditekan nilainya yaitu tidak disarankan melebihi 30% dari pengeluaran rutin. Utang yang terus bertambah dapat menyebabkan seseorang mengalami kesulitan finansial sampai kehilangan aset. 2. Tidak Punya Tabungan Dampak gaya hidup konsumtif selanjutnya yaitu memiliki manajemen keuangan yang buruk. Salah satunya tidak memiliki tabungan atau dana darurat. Seseorang dengan perilaku konsumtif, umumnya memberlakukan uang yang didapat untuk memenuhi nafsu konsumtif lainnya atau membayar utang sebelumnya. Istilahnya gali lobang tutup lobang. 3. Sulit Merencanakan Keuangan Masa Depan Seseorang yang konsumtif akan kesulitan dalam merencanakan keuangan masa depan karena pendapatannya dihabiskan untuk membeli barang konsumtif yang tidak penting dan bermanfaat. Padahal, hidup tidak hanya untuk hari ini saja. Kita perlu merencanakan masa depan dan meminimalisir risiko buruk yang mungkin terjadi dengan persiapan finansial yang matang. Baca juga 7 Investor Terkenal di Dunia dan Indonesia yang Bisa Jadi Panutan Cara Mengatasi Perilaku Konsumtif Meskipun konsumtif membawa dampak buruk terhadap keuangan dan juga kesehatan tubuh, perilaku ini masih bisa diatasi melalui beberapa cara di bawah ini, seperti 1. Mengatur Prioritas Keuangan Perilaku ini dapat diatasi dengan mengatur prioritas keuangan. Buatlah skala prioritas setiap kali mendapatkan uang. Prioritas utama adalah memenuhi kebutuhan harian seperti konsumsi, tempat tinggal, dan utang. Prioritas selanjutnya adalah menabung, berinvestasi, dan beramal. 2. Mencatat Keuangan Harian Mencatat keuangan harian ini sifatnya sebagai alarm atau pengingat sudah berapa banyak uang yang dibelanjakan. Hal ini juga penting untuk evaluasi sehingga kamu bisa mengatur keuangan mana yang bisa dipangkas atau ditambah. 3. Buat Target Keuangan Perilaku ini dapat dihindari jika kamu memiliki target keuangan yang jelas. Misalnya saja memiliki rumah di usia 30 tahun. Dengan begitu, kamu tidak akan terpikirkan untuk menjadi konsumtif karena ada tujuan lain yang lebih penting yang ingin dicapai. 4. Melakukan Kegiatan yang Bermanfaat Selanjutnya adalah dengan melakukan kegiatan yang bermanfaat. Misalkan bergabung dengan suatu komunitas, mengikuti workshop, atau menekuni hobi. Dengan adanya aktivitas lain yang disukai, pikiran untuk melakukan gaya hidup konsumtif bisa teralihkan sehingga kamu bisa hidup lebih hemat dan bermakna. Dapatkan informasi menarik dari artikel Moxa lainnya. Download aplikasi Moxa untuk memudahkan kamu menikmati berbagai fiturnya. Nikmati kemudahan untuk mengajukan kredit dan pinjaman, beli asuransi, dan berinvestasi hanya dengan satu aplikasi. Di era globalisasi ini, keadaan kerap mengharuskan kita untuk dapat beradaptasi dalam mengikuti perkembangan zaman. Dari tahun ke tahun, berkembangnya teknologi yang semakin canggih dan cukup pesat ini pun menuntut kita untuk meningkatkan daya beli. Memiliki daya beli memang merupakan hal yang patut untuk disyukuri. Namun, dengan memiliki daya beli ini bukan berarti kamu bisa menghamburkan uang kamu dengan menghabiskannya untuk membeli barang-barang yang kamu inginkan secara berlebihan. Bersifat konsumtif akan menyebabkan pemborosan yang nantinya akan merugikan kamu. Apa itu gaya hidup konsumtif? Dan bagaimanakah cara kita menghindari perilaku tersebut? Simak jawabannya dalam artikel ini! Gaya Hidup Konsumtif Gaya hidup konsumtif merupakan gaya hidup dimana seseorang yang secara berlebihan membeli suatu barang atau jasa dengan mengutamakan keinginannya daripada kebutuhannya dan secara ekonomi akan menyebabkan pemborosan. Ciri Gaya Hidup Konsumtif Siapa nih, yang suka gengsian? Selain memiliki gengsi yang tinggi, ciri-ciri gaya hidup konsumtif adalah ketika seseorang secara terus menerus selalu berusaha untuk mengikuti tren. Keinginan mengikuti tren ini bisa disebabkan dari dua faktor, yaitu faktor internal yang dimana kamu selalu mempunyai rasa tidak pernah puas dengan apa yang kamu miliki sekarang sehingga kamu merasa harus selalu membeli barang baru yang sedang tren saat itu. Kemudian, faktor kedua yaitu faktor eksternal. Ketika orang-orang disekitar kamu memiliki suatu barang keluaran terbaru, bukan tidak mungkin hal ini akan menimbulkan keinginan kamu untuk memiliki barang itu juga. Tekanan sosial ini pun mendorong kamu untuk berperilaku konsumtif. Hayo, siapa yang masih bersifat seperti ini? Perbedaan Gaya Hidup Konsumtif dan Hedonisme Gaya hidup konsumtif ini cukup sering disalah artikan sebagai hedonisme. Secara umum, kedua hal tersebut memang cukup mirip. Tetapi, jika dilihat dari artinya, konsumtif dan hedonisme merupakan dua hal yang berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, hedonisme merupakan pandangan hidup yang menganggap bahwa kenikmatan atau kesenangan secara materi merupakan satu-satunya tujuan utama hidup. Perbedaan gaya hidup konsumtif dan hedonisme adalah hedonisme merupakan suatu pandangan hidup sedangkan gaya hidup konsumtif merupakan tindakan yang dilakukan ketika kamu berpegang dan menganut pandangan tersebut. Jadi, orang yang hedonis sudah dapat dipastikan bahwa mereka memiliki sifat yang konsumtif. Contoh Gaya Hidup Konsumtif Pernahkah kamu membeli berbagai macam barang hanya karena barang tersebut lucu atau hanya sekedar ingin tanpa memperhatikan nilai guna barang tersebut? Jika iya, kamu baru saja berperilaku konsumtif, lho! Pembelian barang ini pun biasanya akan berakhir sia-sia, karena tidak jarang bahwa barang yang dibeli ini tidak memiliki fungsi yang dibutuhkan dan hanya berakhir menjadi pajangan saja. Penyebab Gaya Hidup Konsumtif Hukum sebab akibat merupakan hal yang mutlak dalam hidup. Gaya hidup konsumtif pun tentu memiliki sebab dan akibat. Salah satu penyebab gaya hidup konsumtif yaitu ketika kamu memiliki rasa gengsi yang tinggi. Rasa gengsi ini pun yang akhirnya akan mendorong kamu untuk bersifat konsumtif agar kamu dapat terlihat mampu dalam pandangan orang lain. Pembelian berlebihan atau sikap konsumtif yang dilandaskan rasa gengsi ini hanya dilakukan untuk mendapat pengakuan dan membuat orang lain terkesan. Hal ini tentu saja bukan sifat yang baik untuk dimiliki. Akibat Gaya Hidup Konsumtif Setelah membahas tentang sebab, sekarang kita akan membahas akibat. Akibat atau dampak gaya hidup konsumtif ini akan sangat berpengaruh terhadap kondisi finansial kamu. Karena, jika sifat konsumtif sudah menjadi kebiasaan, sifat boros pun tidak dapat dihindari. Pemborosan ini pun akan mengganggu kesehatan finansial kamu dan kamu tidak dapat menghindari melemahnya kondisi keuangan kamu. Jika kondisi keuanganmu melemah, maka daya beli kamu pun akan berkurang secara berkala, sementara tingkat kebutuhan akan bertambah seiring berjalannya waktu. Maka, bijaknya jika kamu sebisa mungkin untuk berhati-hati dan menghindari sifat konsumtif ini. Cara Menghindari Sifat Konsumtif Setelah mengetahui dampak negatif dari sifat konsumtif, tentu kita semua harus sebisa mungkin untuk menghindarinya. Cara yang dapat kamu lakukan untuk menghindari sifat konsumtif ini adalah dengan mengelola keuangan kamu dengan bijak. Bagaimana? Simak dibawah ini, ya! Buat anggaran pengeluaran bulanan dengan menentukan prioritas kebutuhan kamu. Jadikan anggaran ini sebagai patokan agar kamu tidak overspend pada hal-hal yang tidak penting. Alokasikan uang kamu pada produk asuransi dan juga investasi. Asuransi dan investasi merupakan tabungan yang dapat bermanfaat bagi kamu dimasa depan. Dan dengan memiliki asuransi, kamu akan mendapatkan proteksi dari resiko yang dapat sewaktu-waktu menimpa kamu. Buang jauh-jauh rasa gengsi yang kamu miliki. Tanamkan pemikiran bahwa kamu tidak harus selalu punya apa yang orang lain punya. Hiduplah dengan bijak dan kelola keuanganmu secara cermat tanpa harus melihat orang lain. Jika kamu merasa bahwa orang-orang disekitar kamu membawa pengaruh buruk, kamu harus mencari lingkaran pertemanan baru yang lebih positif. Itulah penjelasan tentang pengertian, ciri-ciri, contoh, penyebab, dampak, serta tips untuk menghindari perilaku konsumtif. Kamu harus dapat mengatur keuangan dengan bijak dan hindari gaya hidup konsumtif agar kamu dapat mencapai kebebasan finansial. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Kasus-kasus penyimpangan sosial banyak sekali ditemukan di Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, tetapi banyak juga ditemukan di luar negeri. Salah satu kasus penyimpangan sosial di Indonesia. Salah satunya adalah konsumerisme. Konsumerisme atau perilaku konsumtif adalah penyimpangan gaya hidup yang mengkonsumsi, membeli dan menggunakan suatu barang secara berlebihan. Setiap masyarakat cenderung bisa memiliki perilaku konsumtif karena setiap masyarakat melakukan kegiatan konsumsi. Namun perilaku ini dianggap menyimpang jika kegiatan konsumsi sudah melebihi batas konsumsi masyarakat pada umumnya. Indonesia masuk peringkat ke-3 dengan masyarakat yang memiliki tingkat konsumerisme yang tinggi. Seperti pada saat awal pandemi Covid-19, masyarakat melakukan panic buying karena adanya aturan work from home, pembelajaran jarak jauh, dan disertai dengan aturan lockdown, juga terlepas dari adanya pandemi tingkat konsumerisme dipengaruhi 2 faktor yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor internal masyarakat disebabkan oleh tidak bisa merencanakan keuangan dengan baik yang membuat masyarakat tidak bisa berpikir panjang dalam membeli barang-barang yang mereka inginkan, juga adanya ketidak pekaan dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya, seperti membeli barang sembako minyak goreng yang belakangan ini sedang marak terjadi di masyarakat, dengan permintaan masyarakat yang tinggi membuat produsen harus terus memproduksi minyak dengan memperdaya sumber daya alam yang ada, dan dengan tidak mempertimbangkan keadaan lingkungan, hal ini bisa mengganggu ekosistem tanah dan lingkungan. Selanjutnya terdapat kemudahan akses untuk menemukan banyak toko-toko yang beragam di internet, seperti masyarakat sekarang sudah banyak pilihan untuk membeli barang secara online. Masyarakat mudah untuk menemukan barang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan bisa sampai ke luar negeri. Hal ini membuat masyarakat lebih mudah untuk melakukan proses transaksi jual beli, yang otomatis akan membuat masyarakat lebih mudah untuk menjadi masyarakat yang terdapat faktor eksternal dari sifat konsumerisme. Kemudahan akses untuk masyarakat sangat mempengaruhi masyarakat menjadi konsumtif. Seperti kemudahan untuk mendownload aplikasi, dan terdapat banyak pilihan barang yang mudah ditemukan di aplikasi tersebut. Dan karena kemudahan ini masyarakat dimanjakan dengan dampak perkembangan teknologi ini yang mempercepat pengaruh sifat konsumtif ke sifat masyarakat yang sosialis membuat mereka harus hidup berkelompok, yang otomatis akan mempengaruhi setiap individu dalam kelompok tersebut, jadi jika ada salah satu yang cenderung bersifat konsumtif, teman-teman kelompoknya akan mudah terpengaruh dan terinternalisasi menjadi masyarakat yg konsumtif. Sifat konsumtif biasa menyerang remaja sampai dewasa karena sifat mereka yang cenderung labil dan belum biasa membatasi diri, namun tidak menutup kemungkinan seorang yang sudah dewasa bisa memiliki sifat konsumtif, karena kebanyakan orang dewasa yang memiliki sifat ini mereka takut ketinggalan tren atau biasa disebut sebagai FOMO fear of missing out. Sehingga banyak dari mereka yang semata-mata hanya mengikuti trend yang tanpa sadar hal ini sudah membuat mereka menjadi masyarakat yang konsumtif. Terakhir karena adanya pandemi yang sangat merubah dan mempengaruhi masyarakat dari berbagai bidang salah satunya pada aktivitas dan kegiatan masyarakat. Masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu dirumah, masyarakat mudah merasa bosan sehingga masyarakat mencoba untuk mencari kegiatan lain, dan karena kemudahan teknolog seperti iadanya ecommerce yang memudahkan masyarakat untuk berbelanja tanpa harus keluar dari rumah, masyarakat menjadikan belanja sebagai pelarian dari kebosanan di masa pandemi, sehingga hal ini mempengaruhi tingkat konsumerisme di Indonesia. Sifat penyimpangan ini adalah penyimpangan negatif. Karena penyimpangan ini berdampak negatif pada masyarakat yang memiliki sifat ini. Masyarakat yang memiliki sifat ini akan terpengaruh pertama dalam bidang ekonomi. Karena ketidakmampuan mereka mengatur keuangannya membuat mereka jadi konsumtif dan kesulitan untuk mengatur keuangannya di masa depan. Sifat konsumerisme juga membuat barang yang dibeli secara berlebihan akan mengalami kelangkaan yang membuat produsen harus memproduksi barang lebih banyak dan tercipta ketidakstabilan sistem produksi dan ekonomi. Lihat Lyfe Selengkapnya Latihan Soal Online - Latihan Soal SD - Latihan Soal SMP - Latihan Soal SMA Kategori Semua Soal ★ SD Kelas 6 / Ujian Tengah Semester 2 Genap MID / UTS IPS SD / MI Kelas 6Salah satu contoh sifat konsumtif adalah …. a. Membeli secukupnya b. Membeli yang dibutuhkan c. Membeli dengan hati-hati d. Membeli dengan borosPilih jawaban kamu A B C D E Latihan Soal SD Kelas 1Latihan Soal SD Kelas 2Latihan Soal SD Kelas 3Latihan Soal SD Kelas 4Latihan Soal SD Kelas 5Latihan Soal SD Kelas 6Latihan Soal SMP Kelas 7Latihan Soal SMP Kelas 8Latihan Soal SMP Kelas 9Latihan Soal SMA Kelas 10Latihan Soal SMA Kelas 11Latihan Soal SMA Kelas 12Preview soal lainnya Kuis 1 PAI SMA Kelas 10 › Lihat soalBank syariah adalah bank yang operasionalnya berbasis padaA. ganti rugiB. Bagi hasil profit sharingC. bunga interestD. profilE. nasabah Ujian Nasional Bahasa Indonesia SD/MI 2013/2014 › Lihat soalCermati cuplikan laporan berikut! Penulisan yang tepat sesuai ejaan pada kalimat yang bergaris bawah adalah…a. Pembina Upacara Pak antonb. Pembina upacara pak Antonc. Pembina upacara pak antond. Pembina upacara Pak Anton Materi Latihan Soal LainnyaStatistika - Matematika SMA Kelas 12Sistem Gerak Pada Manusia - IPA SMP Kelas 8Ekologi - IPA SMP Kelas 7Evaluasi Tema 1 Subtema 2 SD Kelas 5PAS Matematika SMA Kelas 10PKn Bab 3 SMP Kelas 9PTS 1 Ganjil Matematika SMP Kelas 8UH Seni Budaya SMP Kelas 7 Semester 2 GenapKuis Fiqih MI Kelas 2PPKn Tema 6 SD Kelas 3Cara Menggunakan Baca dan cermati soal baik-baik, lalu pilih salah satu jawaban yang kamu anggap benar dengan mengklik / tap pilihan yang tersedia. Tentang Soal Online adalah website yang berisi tentang latihan soal mulai dari soal SD / MI Sederajat, SMP / MTs sederajat, SMA / MA Sederajat hingga umum. Website ini hadir dalam rangka ikut berpartisipasi dalam misi mencerdaskan manusia Indonesia.

salah satu contoh sifat konsumtif adalah