Maafkanlahdia (Abu Nawas)." Menurut satu riwayat, ketika Abu Nawas meninggal dunia, Imam Syafi'i tidak mau menshalati jenazahnya. Namun, ketika jasad Abu Nawas hendak dimandikan, di kantong baju Abu Nawas ditemukan secarik kertas bertuliskan syair berikut ini:
AnalisisSyair "Taubat" Abu Nawas. 4/26/2014. 0 Comments. I. PENDAHULUAN. a. Latar belakang masalah. Mendengar nama Abu Nuwas, Muslim Indonesia dibetot oleh pandangan awal bahwa ia adalah seorang yang jenaka dan penuh kelakar. Sebuah dongeng yang sering dituturkan oleh orang-orang tua Muslim terhadap anak-anaknya.
XkzC6Rg. Syahdan, Abu Nawas dikenal sebagai orang yang gemar berbuat maksiat dan agak gila. Dia gemar minum khamer hingga dia mendapat julukan Penyair Khamer. Abu Nawas pernah membuat syair seperti ini "Biarkan masjid diramaikan oleh orang-orang yang rajin ibadah Kita di sini saja, bersama para peminum khamer, dan saling menuangkan Tuhanmu tidak pernah berkata, Cilakalah para pemabuk. Tapi Dia pernah berkata, Cilakalah orang-orang yang shalat." Gara-gara syairnya ini, Khalifah Harun Ar-Rasyid marah dan ingin memenggal leher Abu Nawas. Tapi, ada orang yang mengatakan kepada Ar-Rasyid “Wahai Amirul Mukminin, para penyair mengatakan apa-apa yang tidak mereka lakukan. Maafkanlah dia Abu Nawas". Menurut satu riwayat, ketika Abu Nawas meninggal dunia, Imam Syafi’i tidak mau menshalati jenazahnya. Namun, ketika jasad Abu Nawas hendak dimandikan, di kantong baju Abu Nawas ditemukan secarik kertas bertuliskan syair berikut ini "Wahai Tuhanku, dosa-dosaku terlalu besar dan banyak, tapi aku tahu bahwa ampunan-Mu lebih besar. Jika hanya orang baik yang boleh berharap kepada-Mu, kepada siapa pelaku maksiat akan berlindung dan memohon ampunan? Aku berdoa kepada-Mu, seperti yang Kau perintahkan, dengan segala kerendahan dan kehinaanku. Jika Kau tampik tanganku, lantas siapa yang memiliki kasih-sayang? Hanya harapan yang ada padaku ketika aku berhubungan dengan-Mu dan keindahan ampunan-Mu dan aku pasrah setelah ini.” Setelah membaca syair tersebut, Imam Syafi’i menangis sejadi-jadinya. Dia langsung menshalati jenazah Abu Nawas bersama orang-orang yang hadir. KH Taufik Damas, Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta
Oleh Munawir Amin. Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i rahimahullah pernah berkata “Aku mengunjungi Abu Nawas. Lalu Aku bertanya padanya “Apa yang Engkau persiapkan untuk hari ini, wahai saudaraku, Abu Nawas?’. Kemudian Abu Nawas menjawab dengan sebuah Syair تَعَاظَمَنِيْ ذَنْبيْ فَلَمَّا قَرَنْتُهُ بعَفْوِكَ رَبِّيْ كَانَ عَفْوُكَ أَعْظَمَا “Pernah kuanggap dosa-dosa ku besar. Namun, ketika kusandingkan dengan pengampunan-Mu, wahai Tuhanku. Maka, ampunan-Mu ternyata lebih besar’”. “Abu Nawas itu karibku,” kata Syaikh Muhammad bin Rafi’ memulai kisahnya. “Namun, di akhir umurnya, kami berpisah jarak. Ketika tersiar kabar kewafatannya. Aku sedih luar biasa. Antara tidur dan terjaga, seakan Aku bertemu dengannya. Lalu Aku panggil Dia “Wahai Abu Nawas!”.“Iya”, jawab Abu Nawas. “Apa yang telah Allah perbuat padamu?”, tanya Syekh Muhammad bin Rafi’. “Dia mengampuni Aku”, kata Abu Nawas, “dan itu disebabkan bait syair yang Aku tulis. Dan syair itu sekarang berada ditumpukan bantal kedua di rumahku”. Tidak lama kemudian Syekh Muhammad bin Rafi’ melakukan perjalanan jauh mengunjungi keluarga Abu Nawas. Ketika keluarga Abu Nawas melihat Syekh Muhammad bin Rafi’, kesedihan menyelimuti keluarga Abu Nawas dan mereka pun kembali menangis. Setelah reda, Syekh Muhammad bin Rafi’ bertanya pada mereka “Apakah saudaraku Abu Nawas punya simpanan syair sebelum beliau wafat?”. “Kami tidak tahu”, jawab keluarga Abu Nawas. “Hanya saja, sebelum kewafatannya. Beliau meminta dibawakan tempat tinta dan kertas. Lalu menulis sesuatu. Apa yang ditulis, kami tidak tahu”, terang keluarga Abu Nawas. “Bolehkan Aku masuk memeriksa?”, kata Syekh Muhammad bin Rafi’. Keluarga Abu Nawas pun mempersilahkannya. Lalu Muhammad bin Rafi’ memasuki kamar Abu Nawas. Memeriksa tempat Syekh Muhammad bin Rafi’ menemukan pakaian yang belum dipindah. Diangkatnya pakaian itu, tidak ditemukan apa-apa. Kemudian, diangkat bantal pertama, juga tidak terlihat apa-apa. Setelah diangkat bantal kedua, ditemukan secarik kertas. Dan disitu tertulis beberapa syair يَا رَبِّ إِنْ عَظَمْتُ ذَنْبيْ كَثْرَةً فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمَا "Wahai Tuhanku, Jika dosa-dosaku yang banyak itu membesar. Aku yakin, pengampunan-Mu lebih agung,". إنِ كَانَ لَا يَرْجُوْكَ إِلّا مُحْسنٌ فَبِمَنْ يَلُوْذُ وَيَسْتَجِيْرُ الْمُجْرِمُ "Andai Engkau hanya menerima orang yang baik saja. Lalu bagaimana dengan kami, orang-orang yang penuh noda dan dosa,". أَدْعُوْكَ رَبِّ، كَمَا أَمَرْتَ، تَضَرُّعاً فَإِذَا رَدَدْتَ يَدِيْ، فَمَنْ ذَا يَرْحَمُ "Aku berdoa padamu Gusti, dengan kerendahan hati, sebagaimana Engkau perintahkan. Jika Engkau tolak kedua tanganku. Siapa lagi yang akan mengasihi Aku?,". مَا لِيْ إِلَيْكَ وَسِيْلَةٌ إِلَّا الرَّجَا وَجَمِيْلُ عَفْوِكَ ثُمَّ أِنِّيْ مُسْلِمٌ "Hanya harapan dan indahnya ampunan-Mu yang jadi perantaraku. Lalu , Aku pasrah pada-Mu,". Sebelum meninggal dunia, Abu Nawas pernah duduk sendirian, memperhatikan matahari yang berangsur–angsur tenggelam. Suasananya cukup hening. Abu Nawas melihat begitu indahnya warna langit yang dipenuhi dengan mega berwarna kuning jingga. Ia memperhatikannya dengan seksama, hingga akhirnya suasana indah itu hilang seiring dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat. Entah apa penyebabnya, tiba–tiba Abu Nawas tak mampu membendung air matanya. Hatinya terasa pedih. Ia menangis tersedu–sedu. Ia menengadahkan kedua tangannya sambil bersyair إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً وَلاَ أَقْوَى عَلىَ نَارِ الجَحِيْمِ "Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi Aku tidak kuat dalam neraka jahim,". فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ فَإِنَّكَ غَافِرُ ذَنْبٍ عَظِيْمٍ "Maka berilah Aku taubat ampunan dan ampunilah dosaku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar,". ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَ الجَلاَلِ "Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah Aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan,". وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ وَذَنْبيِ زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ "Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana Aku menanggungnya,". إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ "Wahai Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu,". فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ أَهْلٌ فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ "Maka jika Engkau mengampuni, Engkaulah ahli pengampun. Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi Aku mengharap selain kepada Engkau,". Demikianlah semoga bermanfaat. Indramayu, 13 September 2021 / 06 Shafar 1443 H Pengasuh Ponpes Sirojuttholibin Tulungagung Kertasmaya Indramayu
Adakalanya Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang melalui dosa-dosanya, dan menghinakan seseorang justru dengan amal tabi’in, Sa’id bin Jubair, berkata bahwa ini terjadi ketika seorang hamba bangga akan amalannya sehingga kesombongan menjauhkannya dari Rahmat Allah. Sementara perasaan hina karena banyaknya dosa dapat membuat seorang hamba bersimpuh, lunak hatinya, dan bertaubat sehingga Allah mengampuni kemudian Allah berkata dalam hadis qudsi, “Kalau kalian tidak berdosa maka Allah akan menjadikan kalian sirna, lalu Allah mendatangkan suatu kaum yang mereka berdosa lalu mereka bertaubat kepada Allah lalu Allah mengampuni mereka.” HR. Muslim.Abu Nawas, misalnya, adalah penyair masyhur di era kerajaan Abbasiyah dengan kehidupan hedonis seperti dikesankan dalam hikayat “100 Malam” Alfu Lailatin wa Lailah. Abu Nawas memang gemar meminum khamr sampai-sampai beliau menulis syair tentang sensasi meminum khamr berjudul khamriyyat. Ia juga gemar bersenang-senang dengan banyak wanita dan dianggap sebagai seorang zindiq. al Bidayah wa Nihayah, Ibnu Katsir, 14/73.Meski terjerumus dalam kubangan maksiat, Abu Nawas sempat menuntut ilmu agama, yakni ilmu Al Qur’an, ilmu hadis, dan sastra Arab melalui sejumlah ulama. Setelah hidayah Allah, besar kemungkinan taubatnya Abu Nawas ditengarai oleh manfaat ilmu agama yang pernah dipelajarinya. Sisi lain dari Abu Nawas inilah yang tidak sepopuler reputasinya sebagai penyair eksentrik dan gemar Abu Nawas, Abu Khalikan, menuturkan dalam Wafiyatul A’yan 2102 bahwa sebelum wafatnya, Abu Nawas menulis bait-bait syair yang ia sembunyikan di bawah bantal. Ibnu Khalikan mengaku bertemu Abu Nawas dalam mimpi dimana ia berkata, “Wahai Abu Nawas, apa balasan Allah terhadapmu?”Abu Nawas menjawab, “Allah Mengampuni dosaku karena beberapa bait syair yang kutulis saat aku sakit sebelum wafat, syair itu berada di bawah bantalku.”Abu Khalikan kemudian mendatangi kediaman keluarga Abu Nawas dan benar saja, ia menemukan secarik kertas berisi syair di bawah sebuah bantal. Di antara penggalan bait syair terakhir yang ditulis Abu Nawas berbunyiJika yang memohon kepada-Mu hanya orang yang baik-baik saja,Lalu kepada siapakah orang yang jahat akan memohon?Aku tidak mempunyai wasilah kepada-Mu kecuali sebuah pengharapan,Juga bagusnya pintu maaf-Mu, kemudian aku pun seorang seorang muslim terjatuh ke dalam kubangan dosa dan maksiat berulang kali, pintu taubat selalu terbuka baginya sebelum maut menjemput atau Hari Kiamat seseorang yang membawa amalan sepenuh bumi namun ia menghadap Allah sebagai pelaku kesyirikan, maka amalannya sia-sia belaka QS. Az Zumar 65 dan ia kekal selamanya di dalam penderitaan QS. Al Maidah 72.Semoga Allah mengampuni Abu Nawas rahimahullah dan kaum muslimin seluruhnya. []
Oleh Wisnu Tanggap Prabowo Pengajar Program Matrikulasi STEI Tazkia, Bogor. Pengajar LBPP LIA. Penulis Aviasi ADAKALANYA Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang melalui dosa-dosanya, dan menghinakan seseorang justru dengan amal kebaikannya. Seorang tabi’in, Sa’id bin Jubair, berkata bahwa ini terjadi ketika seorang hamba bangga akan amalannya sehingga kesombongan menjauhkannya dari Rahmat Allah. Sementara perasaan hina karena banyaknya dosa dapat membuat seorang hamba bersimpuh, lunak hatinya, dan bertaubat sehingga Allah mengampuni kemudian memuliakannya. Bahkan Allah berkata dalam hadis qudsi, “Kalau kalian tidak berdosa maka Allah akan menjadikan kalian sirna, lalu Allah mendatangkan suatu kaum yang mereka berdosa lalu mereka bertaubat kepada Allah lalu Allah mengampuni mereka.” HR. Muslim. Abu Nawas, misalnya, adalah penyair masyhur di era kerajaan Abbasiyah dengan kehidupan hedonis seperti dikesankan dalam hikayat “100 Malam” Alfu Lailatin wa Lailah. Abu Nawas memang gemar meminum khamr sampai-sampai beliau menulis syair tentang sensasi meminum khamr berjudul khamriyyat. Ia juga gemar bersenang-senang dengan banyak wanita dan dianggap sebagai seorang zindiq. al Bidayah wa Nihayah, Ibnu Katsir, 14/73. Meski terjerumus dalam kubangan maksiat, Abu Nawas sempat menuntut ilmu agama, yakni ilmu Al Qur’an, ilmu hadis, dan sastra Arab melalui sejumlah ulama. Setelah hidayah Allah, besar kemungkinan taubatnya Abu Nawas ditengarai oleh manfaat ilmu agama yang pernah dipelajarinya. Sisi lain dari Abu Nawas inilah yang tidak sepopuler reputasinya sebagai penyair eksentrik dan gemar hura-hura. Sahabat Abu Nawas, Abu Khalikan, menuturkan dalam Wafiyatul A’yan 2102 bahwa sebelum wafatnya, Abu Nawas menulis bait-bait syair yang ia sembunyikan di bawah bantal. Ibnu Khalikan mengaku bertemu Abu Nawas dalam mimpi dimana ia berkata, “Wahai Abu Nawas, apa balasan Allah terhadapmu?” Abu Nawas menjawab, “Allah Mengampuni dosaku karena beberapa bait syair yang kutulis saat aku sakit sebelum wafat, syair itu berada di bawah bantalku.” Abu Khalikan kemudian mendatangi kediaman keluarga Abu Nawas dan benar saja, ia menemukan secarik kertas berisi syair di bawah sebuah bantal. Di antara penggalan bait syair terakhir yang ditulis Abu Nawas berbunyi Jika yang memohon kepada-Mu hanya orang yang baik-baik saja, Lalu kepada siapakah orang yang jahat akan memohon? Aku tidak mempunyai wasilah kepada-Mu kecuali sebuah pengharapan, Juga bagusnya pintu maaf-Mu, kemudian aku pun seorang muslim. Meskipun seorang muslim terjatuh ke dalam kubangan dosa dan maksiat berulang kali, pintu taubat selalu terbuka baginya sebelum maut menjemput atau Hari Kiamat tiba. Sebaliknya, seseorang yang membawa amalan sepenuh bumi namun ia menghadap Allah sebagai pelaku kesyirikan, maka amalannya sia-sia belaka QS. Az Zumar 65 dan ia kekal selamanya di dalam penderitaan QS. Al Maidah 72. Semoga Allah mengampuni Abu Nawas rahimahullah dan kaum muslimin seluruhnya. []
syair abu nawas sebelum meninggal